Imam Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, dalam pidato televisi yang disampaikan malam ini kepada bangsa Iran (Rabu, 26/11), dengan menekankan pentingnya penguatan dan kesinambungan Basij secara kuat dari generasi ke generasi sebagai “sebuah kekayaan besar, gerakan rakyat yang luas, dan faktor peningkatan kekuatan nasional”, menyebut kegagalan Amerika dan rezim Zionis dalam mencapai satu pun tujuan serangan terhadap Iran sebagai tanda kekalahan mereka yang tanpa keraguan. Ia juga dengan menyampaikan beberapa nasihat kepada bangsa, mengajak seluruh rakyat dan semua faksi politik untuk menjaga dan memperkuat persatuan nasional.
Ayatullah Khamenei, seraya menekankan perlunya langkah para pejabat dalam memuliakan Basij, menyebut Basij sebagai sebuah gerakan nasional yang bernilai, berlandaskan motivasi Ilahiah dan suara hati, memiliki rasa percaya diri dan semangat kehormatan, serta menambahkan: generasi keempat Basij, yaitu para remaja tercinta di seluruh penjuru negeri, siap untuk bekerja dan berjuang. Gerakan Basij yang bernilai dan sangat penting ini harus terus diwariskan dari generasi ke generasi dengan keadaan yang semakin matang, berkelanjutan, lebih sempurna, dan lebih kuat.
Pemimpin Revolusi menyatakan bahwa keberadaan gerakan seperti Basij adalah petunjuk jalan dan bermanfaat bagi setiap negara, dan menambahkan: sebuah negara seperti Iran yang secara terang-terangan berdiri melawan para tiran dan preman internasional serta menghadapkan dadanya dengan keberanian, lebih dari negara mana pun membutuhkan Basij.
Imam Ali Khamenei, dengan menyinggung perlunya perlawanan bangsa-bangsa terhadap keserakahan dan intervensi para penguasa hegemonik, mengatakan: unsur besar perlawanan yang didirikan dan berkembang di Iran, kini dapat disaksikan dalam slogan-slogan dukungan terhadap Palestina dan Gaza di berbagai belahan dunia, termasuk di negara-negara Barat dan bahkan Amerika.
Ia menyebut kehidupan dan dinamika Basij sebagai sebab pertumbuhan perlawanan bangsa-bangsa terhadap para penindas dunia, seraya menambahkan: dengan berkembangnya perlawanan, kaum tertindas dunia merasakan adanya dukungan dan kekuatan.
Dalam menjelaskan hakikat Basij, Pemimpin Revolusi menegaskan: Basij, dalam bentuk organisasinya dan sebagai bagian dari Korps Garda Revolusi Islam, menampilkan wajah yang kokoh terhadap musuh, namun di hadapan rakyat menunjukkan wajah yang melayani. Akan tetapi yang lebih penting adalah basis luas Basij yang tersebar di seluruh negeri dan terwujud dalam diri setiap individu dan kelompok yang memiliki semangat, kesiapsiagaan, motivasi, dan harapan tinggi di berbagai bidang seperti ekonomi, industri, ilmu pengetahuan, universitas, hauzah, produksi, lingkungan usaha, dan bidang lainnya.
Ayatullah Khamenei menyebut “Basij dengan definisi umum dan menyeluruh ini” sebagai penetral rencana musuh di bidang militer, ekonomi, produksi, teknologi, dan seluruh sektor lainnya, seraya berkata: para ilmuwan terhormat yang gugur sebagai syahid dalam perang 12 hari, para perancang, pembuat, dan peluncur rudal, siapa pun yang dengan logika kokoh dan penjelasan yang lugas melakukan pencerahan dalam menghadapi rumor dan godaan, para dokter dan perawat yang penuh pengorbanan yang tidak meninggalkan rumah sakit saat perang, serta para atlet yang di arena internasional menunjukkan kecintaan kepada Tuhan, agama, negara, dan bangsa — baik mereka anggota resmi Basij ataupun bukan — semuanya adalah Basiji.
Imam Khamenei menambahkan: Imam yang membanggakan dirinya sebagai seorang Basiji, sesungguhnya menginginkan terbentuknya Basij yang demikian luas dan menyeluruh; Basij yang tidak terbatas pada satu golongan tertentu, tetapi mencakup seluruh etnis, profesi, dan lapisan masyarakat.
Pemimpin Revolusi, dalam poin penutupnya mengenai Basij, menegaskan kepada seluruh pejabat lembaga-lembaga pemerintahan: laksanakanlah tugas-tugas kalian seperti seorang Basiji, dengan iman, motivasi, dan semangat kehormatan.
Dalam bagian lain pidatonya mengenai persoalan kawasan dan perang 12 hari, Ayatullah Khamenei menyatakan: dalam perang 12 hari, bangsa Iran tanpa keraguan telah mengalahkan baik Amerika maupun rezim Zionis. Mereka datang dan melakukan kejahatan, namun justru menerima pukulan, kembali dengan tangan kosong, dan tidak mencapai satu pun tujuan mereka; dan ini merupakan kekalahan nyata bagi mereka.
Imam Khamenei, seraya menyinggung pernyataan tentang adanya perencanaan 20 tahun rezim Zionis untuk berperang melawan Iran, mengatakan: mereka telah merancang sebuah perang yang di dalamnya dapat memprovokasi rakyat agar turut melawan sistem pemerintahan, namun kenyataannya justru terbalik. Mereka gagal sedemikian rupa hingga bahkan pihak-pihak yang sebelumnya berseberangan dengan sistem pun berdiri di sisi negara, dan terciptalah persatuan umum di dalam negeri.
Pemimpin Revolusi menegaskan: tentu kami juga mengalami kerugian, dan sesuai dengan sifat alami perang, sejumlah jiwa mulia telah gugur. Namun Republik Islam menunjukkan bahwa ia adalah pusat kehendak dan kekuatan, yang mampu berdiri dan mengambil keputusan dengan tegas tanpa gentar oleh hiruk-pikuk propaganda. Di samping itu, kerugian material yang ditimpakan kepada musuh agresor jauh lebih besar daripada kerugian material yang kami alami.
Ia menunjuk kepada kerugian besar yang dialami Amerika dalam perang 12 hari tersebut dan menambahkan: Amerika mengalami kerugian besar dalam perang ini, karena meskipun telah mengerahkan persenjataan ofensif dan defensif paling mutakhir, mereka tidak mampu mencapai tujuannya, yaitu menipu bangsa dan menyeret mereka untuk berpihak kepadanya. Justru persatuan rakyat semakin menguat dan Amerika pun tetap gagal.
Ayatullah Khamenei, dengan menyinggung kehinaan dan tercemarnya nama rezim Zionis dalam tragedi Gaza sebagai salah satu bencana paling besar dalam sejarah kawasan, menegaskan: dalam kasus ini Amerika berdiri di sisi rezim penjajah dan akibatnya ikut menanggung kehinaan dan keburukan yang besar, sebab masyarakat dunia mengetahui bahwa rezim Zionis tanpa dukungan Amerika tidak akan mampu menciptakan tragedi sebesar ini.
Ia menyebut manusia paling dibenci di dunia saat ini adalah kepala pemerintahan Zionis, dan organisasi serta kelompok pemerintahannya sebagai rezim paling dibenci di dunia, seraya menambahkan: karena Amerika berdiri di samping mereka, kebencian terhadap Zionis juga merembet kepada Amerika.
Pemimpin Revolusi menilai campur tangan Amerika di berbagai belahan dunia sebagai faktor lain dari semakin terisolasinya negara itu, dan berkata: keterlibatan Amerika di setiap wilayah selalu memicu peperangan atau genosida, kehancuran, dan pengungsian massal.
Ia mencontohkan perang Ukraina yang penuh kerugian dan tanpa hasil sebagai salah satu dampak intervensi Amerika, seraya menambahkan: Presiden Amerika saat ini yang sebelumnya mengatakan akan menyelesaikan perang ini dalam waktu tiga hari, kini setelah sekitar satu tahun berlalu justru sedang memaksakan sebuah rencana 28 poin kepada negara yang telah mereka jerumuskan ke dalam perang.
Ayatullah Khamenei menyebut serangan rezim Zionis terhadap Lebanon, agresi ke Suriah, kejahatan di Tepi Barat, serta kondisi mengenaskan di Gaza sebagai contoh lain dari dukungan terang-terangan Amerika terhadap perang dan kejahatan rezim yang keji tersebut. Ia menegaskan: mereka juga menyebarkan rumor bahwa pemerintah Iran melalui negara tertentu telah mengirim pesan kepada Amerika; hal itu adalah kebohongan murni dan sama sekali tidak pernah terjadi.
Ia , seraya menyinggung pengkhianatan Amerika bahkan terhadap sekutu-sekutunya sendiri demi mendukung kelompok Zionis yang kriminal serta demi menyulut peperangan di dunia karena minyak dan sumber daya bawah tanah yang kini cakupannya telah meluas hingga Amerika Latin, menegaskan: negara seperti itu sama sekali bukan negara yang hendak dijalin kerja sama atau hubungan oleh Republik Islam.
Dalam bagian akhir pidatonya, Ayatullah Khamenei menyampaikan beberapa nasihat kepada rakyat, yang pertama adalah menjaga dan memperkuat persatuan nasional.
Ia menyatakan: perbedaan di antara golongan dan faksi politik memang ada, namun yang terpenting adalah ketika berhadapan dengan musuh, seperti dalam perang 12 hari, kita harus berdiri bersama, karena persatuan ini merupakan faktor yang sangat penting bagi kekuatan nasional.
Pemimpin Revolusi, dalam rangka menganjurkan dukungan kepada Presiden dan pemerintah yang berorientasi pelayanan, menyatakan: tugas mengelola negara adalah berat dan penuh tantangan, namun pemerintah telah memulai sejumlah langkah positif, termasuk melanjutkan proyek-proyek yang belum tuntas dari syahid Presiden Raisi, dan insya Allah hasilnya akan disaksikan oleh rakyat.
Seruan ketiga Pemimpin Revolusi kepada rakyat adalah menghindari pemborosan dalam segala hal, termasuk roti, gas, bensin, dan bahan pangan. Ia menyebut pemborosan sebagai salah satu bahaya dan kerugian terbesar bagi keluarga dan negara, dan menegaskan: jika pemborosan sebesar ini tidak terjadi, niscaya kondisi negara akan jauh lebih baik.
Nasihat terakhir Pemimpin Revolusi kepada rakyat adalah memperkuat hubungan dengan Allah SWT serta memperbanyak doa dan permohonan dalam segala urusan, termasuk untuk turunnya hujan, keamanan, dan keselamatan, agar Allah dengan karunia-Nya menyediakan sebab-sebab perbaikan keadaan. [AA]
