Situs Media Informasi Kantor Imam Ali Khamenei

Rahbar: Bangsa Iran Siap Melanjutkan Jalan Perjuangan Imam Khomeini RA

Setelah 25 tahun kepergian Imam Khomeini, keinginan berbagai kalangan khususnya generasi muda dan kaum cendekia di Dunia Islam untuk mengenal lebih jauh fenomena sistem kerakyatan berbasis agama, teori kepemimpinan faqih, dan berbagai ide pemikiran revolusi Islam semakin menguat. Hal itu itu dikatakan Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei, Rabu (4/6), di hadapan masyarakat yang menyemut dan memenuhi komplek makam Imam Khomeini (ra) dalam acara peringatan haul Imam Khomeini (ra) ke-25.

Menguatnya rasa ingan tahu itu dipicu salah satunya oleh propaganda gencar dari musuh terhadap Republik Islam Iran. "Di banding dulu, keinginan opini umum Dunia Islam untuk mengenal esensi dan fakta sebenarnya dari pemerintahan yang menjadi sasaran serangan masif yang terus menerus ini semakin kuat. Mereka ingin mengetahui kunci dari keteguhan dan rangkaian keberhasilan yang dicapai bangsa Iran ini," kata Rahbar.

Keingintahuan dan kesadaran bangsa-bangsa dunia akan realitas yang ada pada revolusi Islam ini, tambah beliau, telah membuahkan kebangkitan Islam dan gerakan anti arogansi (istikbar).

"Kubu istikbar dalam sebuah kesalahan strategis menduga telah berhasil menghabisi kebangkitan Islam. Padahal, kesadaran yang menghasilkan kebangkitan Islam tak bisa dihilangkan. Cepat atau lambat fenomena ini akan menyebarluas," tegas beliau.

Faktor lain yang mendorong keingintahuan bangsa-bangsa lain untuk mengenal revolusi Islam adalah kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh Republik Islam Iran. Mereka ingin mencari jawaban dari pertanyaan, apa yang membuat Republik Islam Iran yang menjadi sasaran berbagai serangan militer, politik, dan propaganda serta embargo dari AS selama 35 tahun tetap bertahan bahkan semakin maju dan kuat?

Pemimpin Besar Revolusi Islam menambahkan, "Bangsa-bangsa, kaum muda dan kalangan cendekia di Dunia Islam menyaksikan keberhasilan bangsa Iran di bidang kedirgantaraan, kesuksesan Iran masuk ke kelompok sepuluh besar dunia dalam berbagai bidang keilmuan modern, dan kemajuan keilmuan Iran yang lebih pesat 13 kali juga lipat dibanding rata-rata dunia. Mereka juga menyaksikan bahwa dalam percaturan politik di kawasan Iran adalah negara yang menjadi penentu. Iran dipandang pula sebagai negara yang tangguh menghadapi rezim pendudukan Zionis, selalu membela yang tertindas dan melawan yang zalim. Menyaksikan fakta-fakta ini akan menarik hati setiap insan untuk mengenal lebih jauh Republik Islam Iran."

Mengenai sistem kerakyatan di Iran, beliau menyinggung pelaksanaan 32 pemilihan umum dalam kurun waktu 35 tahun yang disambut animo besar dari rakyat. Fenomena yang indah ini, meski keagungannya sering terlewatkan, namun tetap mengundang rasa kagum dari para pemerhati di dunia. Menurut beliau, sebagai pemimpin, Imam Khomeini (ra) telah membangun sistem kerakyatan dan politik yang berlandaskan akal Islami dengan terlebih dahulu menumbangkan bangunan sistem kekuasaan diktator Syah.

Sistem yang dibangun oleh Imam Khomeini tegak di atas dua pondasi yang kokoh yaitu, pertama; syariat Islam yang merupakan ruh dan hakikat Republik Islam dan kedua; sistem kerakyatan dengan menyerahkan pengambilan keputusan dan tindakan ke tangan rakyat lewat mekanisme pemilihan umum. Untuk itu, kata Rahbar, jangan ada yang salah menduga bahwa Imam mengadopsi pemilu dari budaya Barat lalu memberinya warna Islam. Sebab, jika bukan berasal dari Islam, tentunya Imam yang dikenal tegas dan transparan akan menjelaskannya.

Mengenai syariat Islam, beliau menjelaskan bahwa pelaksanaan syariat Islam secara sempurna akan menghasilan empat hal inti, yaitu; kemerdekaan, kebebasan, keadilan dan spiritual.

Lebih lanjut Ayatollah al-Udzma Khamenei menerangkan satu masalah penting bahwa dalam pemikiran Imam Khomeini (ra) kekuasaan yang didapatkan melalui kekerasan dan senjata tidak bisa diterima. Di sisi lain, kekuasaan yang dihasilkan oleh pilihan rakyat harus dihormati dan tak ada seorangpun yang berhak menolaknya. Jika terjadi penolakan, maka yang akan muncul adalah fitnah.

Masalah inti lainnya yang ada pada pemikiran Imam Khomeini adalah prinsip membela yang mazlum dan melawan yang zalim. Hal itu, nampak dari kebijakan Republik Islam Iran membela bangsa Palestina yang tertindas.

Di bagian lain pembicaraannya, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengingatkan adanya kendala internal dan eksternal untuk mencapai tujuan dan cita-cita yang digariskan oleh Imam Khomeini (ra). Kendala atau ancaman eksternal yang dimaksud adalah gangguan dari kubu arogansi khususnya Amerika Serikat (AS).

"Walaupun sudah diingatkan oleh banyak pemikir di dunia Barat bahwa gangguan ini tidak ada gunanya, AS tetap menjalankan agendanya untuk mengganggu Republik Islam Iran," imbuh beliau.

Rahbar menyinggung adanya negara-negara reaksionis yang sangat otoriter tapi mendapat dukungan penuh AS. Itu terjadi, karena negara-negara itu sangat patuh kepada kubu arogansi. Ada pula negara-negara yang ditolerir oleh AS karena kepentingan bersama seperti negara-negara Eropa. Tapi terhadap negara-negara ini AS tak segan menancapkan belati saat ada kesempatan. Kelompok ketiga adalah negara-negara yang menolak tunduk kepada hegemoni AS. Terhadap negara-negara ini, AS akan mengerahkan semua cara dan sarana untuk memukul dan menundukkan mereka. Meski demikian, untuk saat ini AS tidak akan menjadikan opsi militer sebagai prioritas karena kekandasan yang dialaminya di Irak dan Afghanistan. Terkait negara-negara ini, AS akan memanfaatkan kaki tangannya untuk merongrong termasuk membantu perencanaan kudeta atau memobilisasi massa untuk turun ke jalan-jalan. Kedua cara ini adalah modus yang biasa digunakan oleh AS.

Modus lain yang digunakan oleh AS, menurut beliau, adalah dengan membentuk kelompok-kelompok teroris untuk mengacaukan negara-negara tertentu yang tidak bersedia tunduk kepada kubu arogansi. Irak, Afghanistan, beberapa negara Arab dan Iran adalah korban dari modus ini. Terkait Iran, AS memberikan bantuan dan dukungannya yang besar kepada kelompok teroris Munafikin (yang menamakan diri mereka MKO, Mujadehin Khalq Organization, pentj).

"Munafikin yang telah membantai banyak ulama, ilmuan, tokoh politik-budaya dan warga sipil, dibela dan didukung oleh AS," jelas beliau.

Ayatollah al-Udzma Khamenei mengatakan, "Modus lain yang digunakan AS di negara-negara yang menolak tunduk adalah ‘menebar perpecahan dan konflik di tubuh pengelola negara' dan ‘menebar penyimpangan dalam prinsip keimanan dan kepercayaan rakyat'."

Beliau mengingatkan untuk tidak salah dalam mengidentifikasi kawan dan lawan atau dalam menentukan musuh yang utama dan yang bukan. Dalam menjelaskan masalah ini, beliau menyebutkan tindakan keji yang dilakukan orang-orang jahil dari kelompok takfiri dan Wahhabi terhadap Syiah dan para pengikut Syiah.

"Semua orang harus menyadari bahwa musuh yang sebenarnya adalah agen-agen rahasia asing dan mereka yang memprovokasi gerakan ini dan membekalinya dengan uang dan senjata," kata beliau.

Meski menegaskan bahwa bangsa Iran siap membalas dengan pukulan telak siapa saja yang mengganggu Republik Islam Iran, Rahbar mengingatkan bahwa ada tangan-tangan tersembunyi yang berusaha mengadu-domba umat Islam. Musuh yang sebenarnya adalah mereka, bukan kelompok-kelompok yang termakan tipuan.

Di akhir pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam mengatakan, "Berkat inayah Allah, nama Imam Khomeini dan ajaran yang disampaikannya akan membantu bangsa Iran dalam meniti seluruh tahapan ini. Dengan adanya optimisme, semangat dan spirit bangsa Iran akan menikmati masa depan yang cerah."
700 /