Berita
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam, pada pagi hari ini (9/1) dalam peringatan hari jadi kebangkitan bersejarah dan kemenangan rakyat Qum pada 19 Dey 1356 Hs, dalam pertemuan dengan ribuan warga beriman dan penuh semangat dari kota tersebut, menyebut kesalahan perhitungan rezim korup Pahlavi dan pendukung utamanya, yaitu Amerika, sebagai faktor utama kekalahan mereka di hadapan bangsa Iran. Ia menegaskan: “Hari ini pun bangsa Iran—berkat negara Republik Islam jauh lebih kuat dibanding masa itu, baik dari sisi perangkat lunak (kesadaran, spiritualitas) maupun perangkat keras (kemampuan dan sarana)—akan mengalahkan Amerika yang angkuh dan terjerumus dalam kesalahan perhitungan. Negara Islam yang berwibawa, yang berdiri berkat darah ratusan ribu syuhada mulia, tidak akan mundur di hadapan individu-individu tak berpikir dan perusuh yang melakukan tindakan perusakan.”
Waspadai Perang Lunak, Dengan Dukungan Rakyat Musuh Akan Takluk
Pemimpin Revolusi Islam, pada pagi hari ini (Jumat, 3/1) bertepatan dengan peringatan kelahiran Maula al-Muwahidin, Imam Ali bin Abi Thalib as, dan peringatan enam tahun syahidnya Jenderal Soleimani, dalam pertemuan dengan keluarga-keluarga mulia para syahid perang 12 hari (Syuhada Izzah), menyebut keadilan dan ketakwaan Amirul Mukminin sebagai dua puncak yang sangat dibutuhkan negeri ini dan sebagai sifat paling wajib untuk mengelola masyarakat. Dengan menekankan pentingnya kewaspadaan dan penguatan persatuan nasional dalam menghadapi “perang lunak” musuh, Imam Ali Khamenei menyatakan: “Perang yang berlandaskan tipu daya, kebohongan, fitnah, dan rumor ini adalah perang yang sama yang ditempuh musuh-musuh pemerintahan Alawi setelah kekalahan militer mereka di hadapan Imam Ali as, guna menghalangi terwujudnya tujuan-tujuan pemerintahannya.”
Pemuda Kita Baik, Nilai Pertahanan Suci Perlu Disampaikan Secara Kreatif
Pernyataan Pemimpin Revolusi Islam dalam pertemuan dengan para penyelenggara Kongres Peringatan 5.580 Syuhada Provinsi Alborz malam ini dipublikasikan di lokasi penyelenggaraan acara tersebut di Karaj.
Ayatullah Khamenei dalam pertemuan tersebut menyatakan bahwa salah satu tugas terpenting dalam kondisi saat ini adalah mentransfer motivasi dan nilai-nilai masa Pertahanan Suci kepada generasi muda. Ia menegaskan: “Pemuda-pemuda kita hari ini adalah pemuda yang baik, dan meskipun tersedia sarana-sarana canggih untuk menyampaikan berbagai konten dan konsep kepada mereka, mereka tetap mampu menjaga identitas keagamaan. Karena itu, landasan ini harus dimanfaatkan untuk penjelasan dan penyampaian nilai-nilai secara kreatif dan artistik kepada generasi muda.”
Menjawab Perang Opini: Keharusan Merubah Formasi Media Nasional
Iran Islam, pada peringatan kelahiran yang penuh berkah Sayidah Fatimah az-Zahra (as), hari ini (Rabu, 10/12) dipenuhi cahaya, kegembiraan, dan suka cita di seluruh penjuru negeri. Pada kesempatan tersebut, di Huseiniyah Imam Khomeini rah, dengan kehadiran Pemimpin Revolusi Islam serta ribuan pecinta Ahlulbait as, diselenggarakan acara meriah pembacaan pujian (madah), pembacaan puisi, dan pengagungan keutamaan Sayidah para perempuan alam semesta.
Dalam acara yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut, Ayatullah Khamenei menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran Sayidah Shiddiqah Thahirah as dan menegaskan bahwa bangsa Iran, melalui perlawanan nasional, telah menggagalkan upaya berkelanjutan musuh untuk mengubah “identitas keagamaan, historis, dan kultural” bangsa ini. Ia menambahkan bahwa di tengah kebutuhan akan penataan yang tepat—baik defensif maupun ofensif—dalam menghadapi aktivitas propaganda dan media musuh yang menargetkan “pikiran, hati, dan keyakinan”, Iran tercinta tetap melanjutkan gerak maju, meskipun terdapat berbagai persoalan dan keterbatasan di seluruh negeri.
Perempuan: Bukan Pekerja Rumah, Tapi Pemimpin Rumah Tangga
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pagi ini (Selasa, 2/12), dalam pertemuan dengan ribuan perempuan dan para gadis dari berbagai wilayah negara, menyebut Sayidah Fatimah al-Zahra sa sebagai manusia langit (arasyi) yang dihiasi dengan sifat-sifat paling agung dalam seluruh bidang. Ia menjelaskan pandangan Islam mengenai martabat dan hak-hak perempuan di ranah rumah tangga maupun masyarakat, serta menguraikan hal-hal yang wajib dan tidak boleh dilakukan oleh laki-laki dalam memperlakukan istri dan kaum perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Ayatullah Agung Khamenei, dengan menyinggung keutamaan-keutamaan tanpa batas dari Pemuka Dua Alam ini — dalam ibadah dan kekhusyukan, pengorbanan dan kepedulian terhadap masyarakat, keteguhan dalam menghadapi kesulitan dan musibah, keberanian dalam membela hak kaum tertindas, peran dalam pencerahan dan penjelasan kebenaran, pemahaman dan tindakan politik, pengelolaan rumah, hubungan suami-istri, pendidikan anak, serta kehadiran dalam peristiwa-peristiwa besar sejarah awal Islam — menyatakan:
"Perempuan Iran, alhamdulillah, menjadikan matahari agung ini sebagai teladan. Perempuan yang menurut sabda Nabi saw adalah penghulu seluruh perempuan alam semesta sepanjang sejarah, menjadi sumber pelajaran dan inspirasi."
Pertarungan Prinsip, Bukan Politik: Iran vs Amerika
Menjelang tanggal 13 Aban (4/11)—Hari Pelajar dan Hari Nasional Perlawanan terhadap Arogansi Global—Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Agung Sayyid Ali Khamenei, pada pagi hari ini dalam pertemuan dengan ribuan pelajar, mahasiswa, dan sejumlah keluarga syuhada dari perang 12 hari, menyebut peringatan penaklukan Kedutaan Besar Amerika Serikat—yang merupakan pusat konspirasi dan perencanaan melawan Revolusi Islam pada 13 Aban 1358 (4 November 1979)—sebagai hari kebanggaan dan kemenangan, sekaligus hari tersingkapnya hakikat sejati pemerintahan arogan Amerika Serikat.
Imam Khamenei menekankan pentingnya pencatatan hari ini dalam memori nasional, dan dengan menjelaskan sejarah panjang permusuhan Amerika terhadap bangsa Iran—yang dimulai sejak kudeta 28 Mordad (19 Agustus 1953) dan terus berlanjut hingga kini—menegaskan bahwa perselisihan antara Republik Islam Iran dan Amerika adalah perselisihan yang bersifat hakiki dan mendasar, yakni pertentangan antara dua arus besar: Amerika Serikat dan Republik Islam.
Persatuan Rakyat, Kekuatan Bangsa
Pagi ini (Sabtu, 23/8), bertepatan dengan hari syahadah Imam Ali bin Musa al-Ridha as, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam bertemu dengan ribuan orang dari berbagai kalangan masyarakat. Ia menyebutkan bahwa “penyebaran luar biasa mazhab Ahlulbait” dan “penyebaran cepat isu Asyura serta filsafat kebangkitan Imam Husain di dunia Islam” adalah di antara berkah terpenting dari perjalanan Imam Kedelapan ke Khurasan.
Imam Ali Khamenei juga menegaskan sejumlah poin penting terkait persoalan aktual, dan menekankan: musuh-musuh Iran telah memahami—dari “keteguhan dan persatuan kokoh bangsa, para pejabat, dan angkatan bersenjata” serta “kekalahan pahit dalam serangan militer”—bahwa bangsa Iran dan sistem Islam tidak bisa dipaksa tunduk melalui perang. Oleh karena itu, kini mereka berusaha mencapai tujuan tersebut dengan “menciptakan perpecahan di dalam negeri.” Menghadapi hal ini, seluruh rakyat, pejabat, serta para pemilik profesi, pena, dan mimbar harus dengan segenap kemampuan menjaga dan memperkuat “perisai baja persatuan suci dan agung bangsa”.
Kedudukan Tinggi Wakil Rakyat, Jaga Kehormatan Majelis
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, pada pagi hari ini Rabu (11/6) dalam pertemuan dengan Ketua dan anggota DPR, menyatakan bahwa lembaga-lembaga legislatif dunia memiliki bobot hukum yang serupa. Namun, ia menegaskan bahwa tolok ukur utama dalam menilai parlemen-parlemen dunia adalah bobot hakikinya, yaitu “tujuan, arah gerak, dan sikapnya.” Dari sudut pandang ini, kedudukan dan martabat DPR (Majelis Syura) benar-benar tiada bandingannya di dunia. Tentu saja, kelestarian dan keberlangsungan kedudukan yang terhormat dan mulia ini menuntut sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi oleh para anggota parlemen.
Rasionalitas Imam Kunci Kemajuan dan Kesejahteraan
Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam pagi ini (Selasa, 3/6) dalam perhelatan besar di makam suci Imam Khomeini (rahimahullah) menegaskan, dengan merujuk pada dampak nyata Revolusi Islam terhadap perkembangan dunia saat ini, “Imam Khomeini, dengan kebijaksanaan dan rasionalitas yang lahir dari iman, telah merangkum prinsip-prinsip keberlanjutan gerakan revolusi dan negara yang berwibawa dan bermartabat dalam konsep mendasar "kemerdekaan nasional", dan Iran tercinta dalam naungan prinsip-prinsip ini akan mencapai kemajuan, kesejahteraan umum, keamanan yang stabil, peningkatan posisi internasional yang lebih tinggi, dan masa depan yang cerah.”
Dukungan Kuat dari Rakyat, Saatnya Melayani
Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Ali Khamenei, siang ini (Selasa, 27/5) dalam pertemuan dengan Menteri Dalam Negeri dan para Gubernur menegaskan bahwa gubernur adalah pengelola menyeluruh di tingkat provinsi. Ia menilai kondisi umum negara sangat kondusif untuk memberikan pelayanan kepada rakyat dan peluang yang tersedia sangat banyak. Di samping memberikan sejumlah arahan, ia menyatakan, “Salah satu hal penting adalah masalah rakyat yang harus ditemui secara langsung, hadir dalam pertemuan mereka, dan mendengarkan keluh kesah mereka dengan sabar, walaupun terkadang mereka mengungkapkan hal yang keras. Penjelasan yang diperlukan juga harus disampaikan kepada mereka.”
Gaza Butuh Tindakan Efektif, Bukan Retorika
Pemimpin Revolusi Islam, sore hari ini bertemu dengan Shehbaz Sharif, Perdana Menteri Pakistan, beserta delegasi yang menyertainya. Dalam pertemuan tersebut, Imam Ali Khamenei menyoroti posisi istimewa Pakistan dalam komunitas dunia Islam dan menekankan pentingnya kegiatan bersama yang berdampak antara Iran dan Pakistan guna menghentikan kejahatan rezim Zionis di Gaza.
Tiada yang Lebih Utama Selain Persatuan
Pemimpin Revolusi Islam Iran pada pagi hari ini, dalam pertemuan dengan para penyelenggara haji dan sebagian calon jemaah haji Baitullah al-Haram, menyebut bahwa tujuan Allah dalam menetapkan ibadah haji adalah untuk memberikan model yang sempurna dan terarah bagi pengelolaan umat manusia. Ia menambahkan: “Bentuk dan struktur lahiriah ibadah haji sepenuhnya bersifat politik, sedangkan isi dan komponennya sepenuhnya bersifat spiritual dan ibadah, agar manfaatnya menjangkau seluruh umat manusia. Hari ini, manfaat terbesar bagi umat Islam adalah "persatuan dan sinergi" untuk menyelesaikan masalah dunia Islam, dan jika persatuan ini terwujud, hal-hal seperti tragedi di Gaza dan Yaman tidak akan terjadi.”
Pesan Raja Saudi untuk Pemimpin Revolusi
Khalid bin Salman, Menteri Pertahanan Arab Saudi, pada sore hari ini (Rabu, 16/4) dalam pertemuan dengan Pemimpin Revolusi Islam menyampaikan pesan Raja Arab Saudi kepada Ayatullah Agung Khamenei.
Dalam pertemuan ini, Pemimpin Revolusi Islam menekankan: “Keyakinan kami adalah bahwa hubungan antara Republik Islam Iran dan Arab Saudi akan bermanfaat bagi kedua negara, dan kedua negara dapat saling melengkapi satu sama lain.”
Tidak Optimis dan Juga Tidak Pesimis Terhadap Pembicaraan di Oman
Pemimpin Revolusi Islam dalam pertemuan pertama tahun baru (Senin, 14/4) dengan para pejabat tinggi tiga lembaga negara (eksekutif, legislatif, dan yudikatif), menyebut "tindak lanjut" sebagai mata rantai yang hilang dalam upaya mencapai tujuan negara, dan menegaskan bahwa upaya untuk merealisasikan slogan tahun ini adalah agenda bersama bagi ketiga lembaga negara.
Siaga Maksimal, Tingkatkan Kesiapan Perangkat Keras dan Lunak
Siang hari ini (Sabtu, 12/4), Pemimpin Revolusi Islam dalam pertemuan dengan sekelompok komandan dan pejabat angkatan bersenjata dalam rangka menyambut tahun baru menyatakan bahwa angkatan bersenjata adalah benteng pertahanan negara dan tempat perlindungan rakyat dari segala bentuk agresi. Ia menekankan pentingnya penguatan kesiapsiagaan secara maksimal, baik dari sisi perangkat keras maupun perangkat lunak, untuk menjalankan tanggung jawab nasional ini. Ia juga mengatakan bahwa kemajuan negara membuat para musuh Iran menjadi marah dan frustrasi. Tentu saja, masih terdapat kelemahan di beberapa sektor seperti ekonomi yang perlu diatasi dengan usaha keras.
Persatuan Islam Kunci Hadapi Pemerasan Kekuatan Besar
Pemimpin Revolusi Islam pada pagi ini (Minggu, 30/3) dalam pertemuan dengan pejabat-pejabat negara, duta besar negara-negara Islam, dan sejumlah masyarakat dari berbagai lapisan, menyatakan bahwa kehormatan Islam yang semakin meningkat dan perlawanan terhadap penindasan serta pemerasan dari kekuatan besar tergantung pada persatuan dan wawasan umat Islam. Ia menekankan bahwa jalan yang efektif untuk menghadapi kejahatan luar biasa yang dilakukan oleh rezim Zionis dan pendukungnya di Palestina dan Lebanon adalah persatuan, kesatuan, dan saling pengertian antar negara-negara Islam.
Tugas Masyarakat dan Tiga Cabang Kekuasaan Untuk Mewujudkan Slogan Tahun Ini
Pada hari pertama tahun baru (Kamis, 20/3), dalam pertemuan dengan ribuan orang dari berbagai lapisan masyarakat, Pemimpin Revolusi Islam menekankan bahwa tradisi masyarakat Iran dalam menyambut tahun baru dengan doa, tawassul, dan berkumpul di tempat-tempat suci mencerminkan pandangan spiritual mereka terhadap Nowruz.
Penyair Muda: Harapan Masa Depan Sastra
Pada malam kelahiran penuh berkah Karim Ahlulbait (Sabtu, 15/3), Imam Hasan Mujtaba as, sekelompok penyair muda dan senior bertemu dengan Pemimpin Revolusi Islam, Ayatullah Khamenei.
Dalam pertemuan ini, Ayatullah Khamenei mengungkapkan kegembiraannya atas perkembangan puisi yang berkomitmen dan revolusioner. Ia menilai bahwa puisi-puisi yang dibacakan dalam pertemuan ini umumnya bagus dan berkualitas. Ia juga menambahkan bahwa gelombang berkembangnya puisi, khususnya di kalangan anak muda, sangat menjanjikan. Laporan tentang aktivitas sastra para penyair di tahun 1403 H.S (2024 M) menunjukkan bahwa penyair-penyair berkomitmen dan revolusioner telah menjalani ujian dengan baik di tahun ini.
Negoisasi dengan AS Tidak Membuka Akan Simpul Embargo Justru Memperumit
Sore ini (Rabu 12/3), Pemimpin Revolusi Islam dalam pertemuan dengan ribuan mahasiswa dari seluruh negeri serta para aktivis organisasi politik, sosial, budaya, dan kelompok jihad mahasiswa, menyampaikan rekomendasi penting terkait evaluasi isu-isu dan penguatan identitas mahasiswa. Imam Ali Khamenei juga menjelaskan dua pengalaman berbeda yang dialami pemuda Iran dalam menghadapi Barat, dengan mengatakan: Pengalaman pertama berujung pada keterpurukan, sedangkan pengalaman kedua – yang kini menjadi arah pergerakan mahasiswa – berfokus pada pemahaman realitas Barat, semangat kemerdekaan, dan menjaga jarak dari problematika peradaban Barat.
