Situs Media Informasi Kantor Imam Ali Khamenei

Pertemuan Imam Ali Khamenei dengan Ribuan Warga Tabriz dan Azerbaijan Timur

Lebih Berbahaya dari Kapal Perang: Senjata Yang Menenggelamkannya ke Dasar Laut

Pemimpin Revolusi Islam, pada pagi hari ini (Senin, 17/2) dalam pertemuan yang penuh semangat dengan ribuan warga Tabriz dan Provinsi Azerbaijan Timur, menyebut tahun ini sebagai tahun yang luar biasa dan penuh peristiwa. Ia menyebut “kemenangan bangsa dalam perang 12 hari”, “penumpasan fitnah besar dan berat pada bulan Dey”, serta “kehadiran megah rakyat dalam dua pawai besar dan luar biasa pada 22 Dey dan 22 Bahman” sebagai tanda kekuatan dan kehidupan bangsa Iran yang mulia.

Imam Ali Khamenei menekankan pentingnya menjaga dan memperkuat “kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan persatuan nasional”, seraya menambahkan bahwa selain para pemimpin utama dan unsur-unsur perusak yang terhubung dengan musuh, semua syuhada dan korban yang gugur dalam kerusuhan—baik “pasukan pembela keamanan dan ketertiban masyarakat”, “warga sipil yang tidak bersalah”, maupun “orang-orang yang tertipu yang karena kepolosan dan emosi ikut dalam fitnah”—semuanya kami anggap sebagai anak-anak kami sendiri, dan kami berduka serta berkabung atas mereka semua.

Ayatullah Khamenei juga menekankan perlunya peningkatan kerja para pejabat negara untuk menyelesaikan berbagai persoalan, mengendalikan inflasi, dan menjaga nilai mata uang nasional. Dalam bagian lain pidatonya, ia menyinggung campur tangan yang tidak pantas serta ancaman arogan dari para pejabat dan media Amerika terkait kemungkinan serangan terhadap Iran. Ia mengatakan bahwa mereka sendiri mengetahui bahwa mereka tidak memiliki ketahanan untuk mewujudkan ancaman tersebut, dan “tentara yang menganggap dirinya sebagai tentara terkuat di dunia” bisa saja menerima tamparan keras yang membuatnya tidak mampu bangkit kembali. Sementara itu, lembaga-lembaga yang bertanggung jawab dalam menghadapi ancaman telah memiliki kesiapan yang diperlukan, dan rakyat harus menjalani kehidupan mereka dengan tenang dan penuh keyakinan.

Dalam pertemuan yang berlangsung menjelang peringatan hari bersejarah kebangkitan menentukan rakyat Tabriz pada 29 Bahman 1356 (16/2/1978) ini, Imam Khamenei menyebut “ketepatan waktu, tindakan yang tepat pada saatnya, dan pengorbanan” sebagai ciri khas dari kebangkitan tersebut. Ia juga memuji kehadiran penuh harapan generasi muda Azerbaijan di berbagai medan, dan menyatakan bahwa kehadiran dua kali lipat warga Tabriz dalam pawai 22 Bahman menunjukkan bahwa rakyat Tabriz, seperti seluruh bangsa Iran, tetap hidup dan penuh semangat, dan bangsa seperti ini tidak akan pernah tertipu oleh permainan politik dan tipu daya musuh.

Pemimpin Revolusi juga menyebut tahun ini sebagai tahun yang berulang kali menyingkap “keagungan, kehendak, tekad kuat, dan berbagai kemampuan bangsa Iran”. Ia menambahkan bahwa dengan menunjukkan kekuatan dan keteguhan secara berulang, bangsa Iran telah menjadikan negaranya mulia dan terhormat, dan para pejabat yang melakukan kunjungan luar negeri pada masa ini dapat merasakan secara jelas keistimewaan bangsa Iran dalam pertemuan dengan para pejabat negara lain.

Imam Khamenei juga menilai bahwa penjelasan tentang hakikat dan dimensi fitnah bulan Dey oleh “para pemikir dan analis” sangatlah penting, dan menegaskan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar gerakan dan kerusuhan sejumlah pemuda dan orang-orang yang marah, melainkan sebuah “kudeta yang telah direncanakan”, yang pada akhirnya berhasil dihancurkan di bawah kaki bangsa Iran.

Ayatullah Khamenei, dalam menjelaskan realitas ini, menambahkan bahwa badan-badan intelijen dan spionase Amerika Serikat serta rezim Zionis, dengan bantuan badan intelijen beberapa negara lain, sejak lama telah merekrut sejumlah orang jahat atau individu yang memiliki kecenderungan kriminal. Mereka kemudian memberikan pelatihan, dana, dan senjata di luar negeri, serta mengirim mereka ke dalam negeri untuk melakukan sabotase dan menyerang pusat-pusat militer dan pemerintahan, agar pada saat yang tepat mereka dapat mulai beraksi. Kesempatan itu, menurut Imam Khamenei, muncul pada pertengahan bulan Dey.

Pemimpin Revolusi menyebut “mempengaruhi dan membangkitkan kemarahan sejumlah orang yang tidak berpengalaman dan polos” sebagai langkah lain dari para perancang dan pelaku fitnah. Ia  menjelaskan bahwa unsur-unsur yang telah dilatih tersebut mendorong orang-orang seperti itu ke garis depan, sementara mereka sendiri turun ke lapangan dengan berbagai jenis senjata dan dengan kebijakan “gerakan yang keras dan tanpa pertimbangan”. Mereka, seperti ISIS, melakukan kekerasan yang luar biasa dengan “membakar, membunuh, dan menghancurkan.”

Ia menyatakan bahwa tujuan utama dari tindakan-tindakan tersebut adalah untuk mengguncang fondasi sistem. Namun, pasukan kepolisian, Basij, Garda Revolusi (IRGC), dan banyak rakyat berdiri melawan para perusuh, sehingga “kudeta” tersebut—meskipun telah dipersiapkan dengan matang dan menghabiskan biaya besar—secara jelas mengalami kegagalan, dan bangsa Iran keluar sebagai pemenang.

Ayatullah Khamenei menyebut “pawai besar 22 Dey dan 22 Bahman” sebagai “tanda-tanda kekuasaan Ilahi”, dan menegaskan bahwa bangsa yang mulia ini, yang mampu mengalahkan permusuhan dan konspirasi musuh, harus menjaga keberhasilan Ilahi yang nyata ini dengan “kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan persatuan nasional.”

Terkait darah yang tertumpah dalam kerusuhan, beliau menambahkan bahwa sebagian orang yang merupakan pemimpin utama fitnah dan termasuk pelaku kudeta telah menemui ajalnya dan urusan mereka diserahkan kepada Tuhan. Namun, tiga kelompok korban lainnya beliau sebut sebagai anak-anak bangsa sendiri, dan beliau menyatakan duka cita atas semuanya.

Ia menyebut kelompok pertama korban, yaitu “anggota kepolisian, Basij, Garda Revolusi, dan rakyat yang bersama mereka”, sebagai para syahid utama dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan keselamatan masyarakat serta negara.

Kelompok kedua korban, yaitu “para pejalan kaki dan warga sipil yang tidak bersalah”, juga disebut sebagai syahid, karena mereka tertembak dan kehilangan nyawa dalam fitnah yang diciptakan oleh musuh.

Kelompok ketiga korban adalah “orang-orang yang tertipu, yang karena kepolosan mereka ikut bersama para pelaku fitnah”. Beliau menegaskan bahwa mereka juga bagian dari bangsa dan seperti anak-anak sendiri, dan beliau turut berduka atas mereka, seraya memohon rahmat dan ampunan Ilahi bagi seluruh korban.

Imam Khamenei  menambahkan bahwa sebagian dari orang-orang yang tertipu tersebut, yang bahkan tidak ditangkap atau dipenjara, telah menulis surat kepadanya, menyatakan penyesalan dan memohon maaf.

Ayatullah Khamenei juga menyinggung pengakuan Amerika Serikat tentang pembentukan ISIS, dan mengatakan bahwa ISIS tersebut sebagian besar telah dihancurkan, namun kini muncul “ISIS-ISIS baru”. Oleh karena itu, semua pejabat dan rakyat harus waspada, khususnya para pemuda, agar berhati-hati terhadap siapa yang mempengaruhi mereka dan apa yang ditawarkan kepada mereka.

Pemimpin Revolusi menegaskan bahwa rakyat menginginkan para pelaku utama kerusuhan yang merusak untuk ditindak dan dihukum, dan lembaga peradilan serta keamanan berkewajiban untuk mengadili dan menghukum mereka. Ia juga menekankan bahwa siapa pun yang, “melalui ucapan, analisis, atau tindakan”, bekerja sama dengan musuh, harus menghadapi proses hukum yang adil.

Ia menambahkan bahwa sangat mungkin rencana berikutnya Amerika terhadap Republik Islam akan menggunakan pola yang sama. Namun, ia menegaskan dengan penuh keyakinan bahwa, dengan pertolongan Ilahi dan berkat kesiapsiagaan serta vitalitas bangsa Iran, setiap gerakan semacam itu akan dihancurkan oleh respons tegas rakyat.

Pemimpin Revolusi, dalam bagian lain pidatonya, menyebut berbagai persoalan ekonomi, politik, dan sosial yang sangat banyak di Amerika Serikat sebagai tanda-tanda proses kemunduran dan kehancuran imperium Amerika. Ia mengatakan bahwa persoalan Amerika dengan Iran adalah karena mereka ingin “menelan Iran”, namun bangsa Iran dan Republik Islam menjadi penghalang bagi terwujudnya tujuan tersebut.

Imam Khamenei menyebut pernyataan-pernyataan ancaman dari Presiden Amerika sebagai bukti keinginan mereka untuk mendominasi bangsa Iran, dan menambahkan bahwa bangsa Iran memahami dengan baik pelajaran Islam dan ajaran Syiah mereka, serta mengetahui kapan dan apa yang harus mereka lakukan.

Ayatullah Khamenei, dengan merujuk pada pernyataan bersejarah Imam Husain (as) bahwa seseorang seperti beliau tidak akan pernah berbaiat kepada seseorang seperti Yazid, menegaskan bahwa bangsa Iran juga mengatakan bahwa bangsa seperti mereka, dengan budaya, sejarah, dan ajaran luhur yang dimiliki, tidak akan pernah berbaiat kepada orang-orang korup yang berkuasa di Amerika.

Imam Khamenei menyebut terungkapnya berbagai skandal korupsi yang mengejutkan dalam kasus “pulau terkenal yang memalukan” sebagai cerminan realitas peradaban dan liberal demokrasi Barat. Ia menambahkan bahwa semua yang sebelumnya telah didengar tentang korupsi para pemimpin Barat hanyalah sebagian kecil dibandingkan dengan kasus pulau tersebut. Menurut beliau, hal itu hanyalah satu contoh dari banyaknya bentuk kerusakan moral mereka, dan sebagaimana kasus tersebut yang sebelumnya tersembunyi kemudian terungkap, masih banyak kasus lain yang akan terungkap di masa depan.

Pemimpin Revolusi, dengan merujuk pada suasana penuh ancaman dalam propaganda dan pernyataan para pejabat Amerika serta media Zionis yang aktif di Amerika terhadap Iran, mengatakan bahwa rakyat Tabriz dan bangsa Iran telah memberikan jawaban atas ancaman dan pernyataan kosong tersebut melalui partisipasi mereka dalam pawai 22 Bahman. Mereka menunjukkan bahwa ancaman bukan hanya tidak berpengaruh, tetapi justru memperkuat motivasi bangsa.

Ia menegaskan bahwa meskipun Amerika mengancam dengan perang, mereka sendiri mengetahui bahwa karena berbagai persoalan politik, ekonomi, serta reputasi dan kredibilitas internasional mereka, mereka tidak memiliki ketahanan untuk mewujudkan ancaman tersebut. Mereka, menurutnya, mengetahui dengan baik apa konsekuensi yang akan mereka hadapi jika melakukan kesalahan.

Ayatullah Khamenei juga menyebut ketidakrasionalan Amerika sebagai salah satu tanda kemunduran imperium mereka, dan menyatakan bahwa contoh ketidakrasionalan tersebut adalah campur tangan mereka dalam berbagai urusan Iran, termasuk dalam isu penting seperti persenjataan.

Ia  menegaskan bahwa kepemilikan senjata pencegah (deterrent) adalah suatu kebutuhan dan kewajiban bagi bangsa, karena setiap negara yang tidak memiliki kekuatan pencegah akan mudah dihancurkan oleh musuh. Namun, Amerika dengan campur tangan dalam isu persenjataan menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki jenis atau jangkauan rudal tertentu, padahal hal tersebut merupakan urusan internal bangsa Iran dan tidak ada kaitannya dengan mereka.

Pemimpin Revolusi juga menyebut campur tangan Amerika dalam hak Iran untuk memiliki industri nuklir damai—yang digunakan untuk keperluan pemerintahan, pengobatan, pertanian, dan energi—sebagai bentuk ketidakrasionalan lainnya. Ia menegaskan bahwa hal tersebut adalah hak bangsa Iran dan bukan urusan Amerika.

Imam Khamenei juga merujuk pada slogan rakyat Iran, “Energi nuklir adalah hak mutlak kami”, dan menambahkan bahwa hak untuk memiliki fasilitas nuklir dan melakukan pengayaan juga telah diakui dalam perjanjian dan peraturan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk semua negara. Campur tangan Amerika dalam hak nasional Iran, menurut beliau, menunjukkan cara berpikir yang tidak teratur dari para pejabat mereka, baik yang sekarang maupun yang sebelumnya.

Ayatullah Khamenei menyebut bentuk ketidakrasionalan Amerika yang lebih aneh lagi adalah cara mereka mengundang Iran untuk bernegosiasi. Ia mengatakan bahwa mereka menyatakan, “Mari bernegosiasi tentang energi nuklir,” namun hasil yang mereka inginkan dari negosiasi tersebut adalah agar Iran tidak memiliki energi nuklir sama sekali.

Ia menegaskan bahwa jika memang akan dilakukan suatu perundingan, maka menetapkan hasilnya terlebih dahulu adalah tindakan yang salah dan bodoh. Imam Khamenei menambahkan bahwa tindakan bodoh ini dilakukan oleh pemerintah, Presiden, dan beberapa senator Amerika, tanpa menyadari bahwa jalan tersebut justru akan membawa mereka ke jalan buntu.

Pemimpin Revolusi, dengan merujuk pada ancaman berulang dari Presiden Amerika yang mengklaim memiliki tentara terkuat di dunia, menegaskan bahwa bahkan tentara terkuat di dunia pun terkadang bisa menerima tamparan keras yang membuatnya tidak mampu bangkit kembali.

Terkait ancaman lain dari Amerika, yaitu pengiriman kapal perang menuju Iran, ia mengatakan bahwa kapal perang memang merupakan alat yang berbahaya, namun lebih berbahaya lagi adalah senjata yang mampu mengirim kapal tersebut ke dasar laut.

Ayatullah Khamenei juga merujuk pada pengakuan Presiden Amerika tentang ketidakmampuan mereka untuk menghancurkan Republik Islam meskipun telah berlalu 47 tahun sejak Revolusi. Ia menyatakan bahwa pengakuan tersebut adalah pengakuan yang baik, namun ia menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah mampu melakukan hal tersebut, karena Republik Islam bukanlah pemerintahan yang terpisah dari rakyat, melainkan bertumpu pada bangsa yang hidup, kokoh, dan kuat, yang selama 47 tahun telah bekerja keras dan berjuang demi kemajuan mereka.

Ia menambahkan bahwa musuh bahkan tidak mampu mencabut “bibit kecil” Republik Islam pada masa awal revolusi, dan kini, dengan rahmat Tuhan, Republik Islam telah menjadi pohon yang diberkahi, tinggi, dan berbuah lebat, serta menjadi negara yang memiliki banyak potensi dan kemampuan. Oleh karena itu, para pejabat pemerintah harus memanfaatkan potensi tersebut dengan meningkatkan upaya dan kerja mereka secara berlipat ganda, agar inflasi saat ini dan penurunan nilai mata uang nasional—yang keduanya tidak rasional—dapat diperbaiki, dan dengan izin Tuhan, perbaikan tersebut akan terwujud.

Pemimpin Revolusi juga menegaskan bahwa kelanjutan yang serius, tepat, dan menyeluruh dari berbagai program yang telah dimulai, serta penyelesaian berbagai masalah dan penciptaan stabilitas dalam lingkungan usaha, merupakan tugas para pejabat. Imam Khamenei menambahkan bahwa jika terdapat ancaman, maka terdapat pula perangkat untuk menetralkan ancaman tersebut. Oleh karena itu, rakyat harus menjalani pekerjaan, kehidupan, pendidikan, usaha, dan perdagangan mereka tanpa kekhawatiran.

Ia menilai bahwa terciptanya suasana ketenangan dan kepercayaan diri di dalam negeri merupakan hal yang sangat penting, dan berharap agar Allah Swt menurunkan ketenangan dan ketenteraman hati kepada seluruh rakyat serta memberikan keberhasilan kepada para pejabat dalam menjalankan tugas mereka.

Sebelum pidato Pemimpin Revolusi, Hujjatul Islam wal Muslimin Motahhari Asl, perwakilan Pemimpin Tertinggi di Provinsi Azerbaijan Timur dan Imam Jumat Tabriz, dengan mengingatkan perlawanan aktif pasukan militer dan rakyat provinsi tersebut terhadap perang yang dipaksakan oleh rezim Zionis, serta partisipasi luas mereka dalam pawai besar pada 22 Dey dan 22 Bahman, menyatakan bahwa rakyat Azerbaijan selalu hadir di medan untuk menjalankan seluruh kewajiban Islam, revolusioner, dan nasional mereka. [AA]

 

700 /